
Kalau sudah pakai Linux itu, ada saja perkembangan baru yang lebih dari ekspektasi. Walaupun ada juga yang terkadang membuat tidak nyaman. Setiap pengguna Linux pasti paham apa kebutuhan peribadi mereka agar desktopnya sesuai dengan jenis pekerjaan masing-masing.
Nah, kali ini saya akan berbagai pengalaman tentang penggunaan sistem input karakter custom di sistem operasi Linux, khususnya Linux Mint 22.3 Zena yang baru saja saya upgrade. Sebelumnya saya bertahan cukup lama dengan LM versi 22.2 Zara dengan berbagai kustomisasi yang dibutuhkan. Pada dasarnya saya tidak begitu peduli dengan kustomisasi tampilan visual. Yang penting, nyaman, desktop luas, dan fungsional untuk pemakaian dalam pekerjaan saya sehari-hari. Tema bawaan Cinnamon sudah cukup baik dan intuitif bagi saya.
Walau demikian, ada sebuah modul yang wajib ada pada desktop, yaitu sistem input karakter (keyboard) yang bisa dikustomisasi dengan layout buatan sendiri, atau mengambil dari layout custom yang sudah tersedia dari sumber terbuka. Kebutuhan ini bukan tanpa alasan. Alasan yang pertama, saya bekerja dengan dokumen yang menggunakan aksara-aksara Nusantara digital, sehingga harus bisa mengetik beragam aksara itu ke dalam aplikasi pengolahan teks dan situs web. Kedua, saya banyak bekerja dengan alih aksara diplomatis dari naskah-naskah kuno, yang menuntut penggunaan aksara Latin berdiakritik khusus (seperti IAST – International Alphabet of Sanskrit Transliteration) yang tidak ditemukan pada stok layout keyboard yang ada di sistem Linux.

Sejak tahun 2010 saya telah membuat layout keyboard aksara Sunda untuk Linux melalui modul basis data m17n (multilingualization). Belakangan, saya juga berkontribusi untuk membuat layout keyboard aksara Sunda untuk Keyman, sehingga dapat digunakan dalam berbagai sistem operasi. Misalnya, dapat dilihat di laman ini: https://inurwansah.my.id/keyboards/.
Mengandalkan iBus
Di Linux yang saya pakai (sering kali berbasis Ubuntu), baik m17n dan Keyman dapat berjalan cukup baik dengan mengandalkan framework iBus. Jumlah pilihan input keyboard yang dapat ditampilkan pun tidak terbatas. Namun, semua itu berubah setelah saya memutuskan untuk meng-upgrade sistem saya ke Linux Mint 22.3, yang ternyata, membatasi jumlah tampilan pilihan input keyboard. Saya kesal juga setelah menyadari ada pembatasan jumlah itu.
Setelah mencari informasi perihal ini di forum-forum, baru saya ketahui bahwa cara kerja iBus di DE Cinnamon 6.6 pada LM 22.3 Zena berbeda dengan versi sebelumnya. LM 22.2 memperlakukan iBus sebagai modul tambahan di luar sistem XKB (X Keyboard Extension), sehingga jumlah layout keyboard dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. Sedangkan, pada LM 22.3, sistem iBus telah diintegrasikan dengan pengaturan GUI XKB bawaan DE Cinnamon, sehingga jumlah maksimal layout keybaord yang dapat ditampilkan hanya empat buah saja. Rupanya, masalah adanya pembatasan itu sudah lama berkelindan di forum-forum yang fokus pada sistem input keyboard.
iBus sendiri berfungsi sebagai penerjemah layout custom yang disediakan dalan database Keyman atau m17n. iBus yang membawa layout custom itu berjalan di atas engine utama sistem input distro Linux, yaitu XKB. Nah, tampilan GUI XKB di Cinnamon 6.6 tampaknya membatasi jumlah layout keyboard, baik yang sudah ada dalam framework iBus (yang berisi database Keyman & m17n), maupun layout bawaan dari XKB itu sendiri. Tapi, mau sebanyak apa pun layout keyboard yang dipasangkan dan dipilih dari database yang ada dalam iBus dan XKB, tetap saja yang ditampilikan hanya empat saja. Bikin kesel gak tuh? Ini memang sudah jadi masalah “abadi” di GUI XKB. Kenapa masalah ini belum teratasi? mungkin karena tidak banyak juga kebutuhan orang-orang untuk menggunakan lebih dari empat layout keyboard custom. Atau, mungkin saya saja yang ngadi-ngadi perlu lebih dari 7 layout keyboard custom?
Dengan adanya masalah abadi akibat integrasi GUI iBus dan XKB itu, saya mulai berfikir untuk mencari alternatif framework sistem input lainnya yang dapat menjalankan berbagai layout keyboard custom yang telah saya buat. Lagi pula, iBus juga mengalami beberapa masalah (bug) dalam menangani input dari database Keyman, seperti yang telah saya laporkan ke laman GitHub Keyman #15386. Dan, tentu saja saya tidak ingin memulai membangun sistem input custom dari nol lagi. Jadi, ini memang sudah saatnya untuk mencari pengganti iBus.
Betah dengan Fcitx 5
Pencarian pengganti iBus berakhir pada framework Fcitx (Flexible Context-aware Input Tool with eXtension). Versi yang saya pakai saat ini adalah Fcitx 5. Fungsinya sama seperti iBus, yaitu untuk memuat berbagai layout keyboard yang telah terpasang di sistem Linux, baik sistem keyboard bawaan XKB, maupun dari database layout seperti Keyman dan m17n. Dibandingkan dengan iBus, Fcitx ternyata memiliki fitur kustomisasi yang lebih banyak, lebih fleksibel dan memungkinkan penggunaan plugin tambahan.
Selain itu, jumlah pilihan layout keyboard yang ditampilkan pada UI-nya tidak dibatasi sepert iBus-XKB untuk LM 22.3. Hal ini dapat dilakukan karena Fcitx berjalan di atas XKB sebagai modul, bukan native. Sehingga ia tidak terjebak pada masalah pembatasan tampilan pilihan keyboard. Makanya, jadi makin betah pakai Fcitx deh.
Oh ya, untuk memasang Fcitx cukup menggunakan perintah berikut di terminal:
sudo apt updatesudo apt install fcitx
Fcitx – Keyman
Fcitx memiliki membaca dan mengolah database layout keyboard Keyman untuk digunakan sebagai sistem input custom di Linux. Untuk melakukan itu pada dasarnya saya hanya perlu menghubungan database modul Keyman dengan Fcitx dengan satu baris perintah di terminal ini:
sudo apt install fcitx5-keyman
Dengan menghubungkan kedua modul itu, saya jadi dapat memanfaatkan kembali berbagai custom keyboard yang telah saya buat di Keyman atau mengunduh layout lain yang tersedia di menu konfigurasi modul Keyman.
Fcitx – m17n
Untuk dapat menggunakan berbagai layout keyboard custom yang saya buat di database m17n, saya hanya cukup menghubungkannya saja dengan satu baris perintah ini:
sudo apt install fcitx5-m17n
Dengan begitu, Fcitx dapat membaca semua keyboard m17n yang sebelumnya sudah saya instal di desktop. Aman!


Pengkaji naskah dan bahasa Sunda kuno. Saat ini fokus menggali sumber-sumber primer sejarah lokal Cianjur. Sejak 2023 menjadi Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Cianjur. Menggunakan Linux secara penuh lebih dari 15 tahun, untuk penggarapan karya-karyanya.










Total views : 47510
Who's Online : 0