
Menjaga sejarah Cianjur bukan hanya soal membaca lembaran lama di kesunyian perpustakaan, tapi juga tentang bagaimana kita saling mendengar dan berbagi cerita. Di momen sebelum pergantian tahun lalu, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk duduk melingkar dan ngobrol santai seharian bersama beberapa sosok yang selama ini setia menjaga narasi kota ini: Kang Fajar dan Aom Pepet dari Bumi Ageung Cikidang, juga Kang Asep Rudiyana dosen Fakultas Hukum Universitas Suryakancana Cianjur.
Pertemuan ini menjadi ruang bagi kami untuk menyandingkan kisah-kisah yang selama ini kita dengar dari orang tua dengan data silsilah yang tersimpan rapi dalam naskah kuno di Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas). Naskah silsilah ini berisi data tujuh generasi keturunan Dalem Cikundul dan menyebutkan lebih dari 480 nama individu. Rasanya menyenangkan bisa berbagi temuan baru ini sebagai bahan pembanding untuk memperkaya khazanah silsilah keluarga besar yang kita muliakan di Cianjur.
Dalam obrolan yang hangat itu, saya menyadari bahwa setiap informasi baru pasti membawa riak kecil di hati, terutama saat apa yang tertulis dalam catatan lama sedikit berbeda dengan apa yang sudah lama kita yakini. Ada keraguan yang muncul, namun itu adalah hal yang sangat wajar karena kita semua sama-sama memiliki rasa sayang yang besar terhadap identitas daerah kita.
Bagi saya, catatan dari Perpusnas ini hadir bukan untuk menghapus cerita yang sudah ada, melainkan sebagai upaya kita bersama untuk “merapikan” kembali kepingan-kepingan informasi yang mungkin sempat terlewat oleh waktu. Tujuannya sederhana: agar anak cucu kita nanti memiliki pegangan yang kuat dan jelas mengenai asal-usul mereka.
Sebagai bagian dari rekan-rekan di Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Cianjur, saya sangat bersyukur bisa bertukar pikiran dengan praktisi budaya seperti Aom Pepet dan Kang Fajar, serta pegiat media seperti Kang Asep Rudiyana. Sinergi seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Cianjur. Narasi sejarah yang baik harus bisa disampaikan dengan cara yang menarik tanpa meninggalkan akurasi catatannya. Dengan saling berbagi data, para kreator sejarah tidak lagi berjalan sendirian dalam mencari referensi, dan para tokoh tradisi pun memiliki sandaran dokumen yang kokoh untuk memperkuat marwah leluhur yang mereka jaga.
Pertemuan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi saya bahwa kejernihan sejarah hanya bisa dicapai melalui dialog yang terbuka dan penuh rasa hormat. Saya sangat mengapresiasi keterbukaan hati para sahabat yang hadir, yang meskipun memiliki pandangan masing-masing, tetap memberi ruang bagi data baru untuk ikut memperkaya diskusi.
Ke depan, hasil-hasil penelusuran naskah ini akan terus saya bagikan melalui blog iNurwansah.my.id sebagai bagian dari ikhtiar kita bersama untuk menjaga warisan Cianjur agar tetap jernih dan terjaga keasliannya. Mari kita teruskan silaturahmi ini, karena sejarah adalah milik kita semua yang peduli pada masa depan.

Pengkaji naskah dan bahasa Sunda kuno. Saat ini fokus menggali sumber-sumber primer sejarah lokal Cianjur. Sejak 2023 menjadi Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Cianjur. Menggunakan Linux secara penuh lebih dari 15 tahun, untuk penggarapan karya-karyanya.







Total views : 45631
Who's Online : 0