Dalam sebuah artikel berbahasa Belanda, saya menemukan catatan menarik tentang pendirian Cianjur. Berikut ini terjemahannya:

Kabupaten Cianjur pada waktu itu belum ada.Setelah runtuhnya Pajajaran, daerah di selatan Gunung Salak dan Gunung Gede hampir tidak lagi berpenghuni. Di wilayah ini kemudian bermukim banyak orang dari Cirebon, terutama di sepanjang jalan menuju Batavia di sebelah timur laut Gunung Gede. Dengan demikian, pada tahun ± 1691 terbentuklah Kabupaten Cianjur. Distrik kabupaten yang berdekatan dengan Cianjur, yaitu Tjiblagong (Cibalagung) dan Tjikalong (Cikalong), kemudian dimasukkan ke wilayah Cianjur. (Lihat Sadjarah Tjikoendoel dan Babad Aria Wangsagoparana, serta Dr. F. de Haan: Priangan, Jilid I, halaman 169, dll.; Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1862, halaman 291, dan Volksalmanak Soenda, 1919, halaman 129 dan edisi 1920, halaman 242, dst.)
Menariknya, kita diarahkan untuk membaca naskah “Sajarah Cikundul” dan “Babad Aria Wangsagoparana”. Kedua naskah itu tampaknya merujuk pada naskah karya R.A.A. Kusumaningrat (Dalem Pancaniti) yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda.
Tentu itu jadi pekerjaan rumah kita untuk mengecek kembali naskahnya. 🙂

Pemerhati sejarah dan budaya Cianjur, pembaca naskah Sunda kuno, pengulik musik tradisi. Pengguna setia Linux.









Total views : 44035
Who's Online : 1