
Sebuah temuan menarik dalam Babad Cikundul mengindikasikan adanya hubungan historis antara Maenpo Cianjur dan seni bela diri Tiongkok: Wing Chun. Babad tersebut menyebutkan bahwa Maenpo disebut juga sebagai “Ji Sao/Gi Sao,” sebuah keahlian yang dikuasai oleh orang Tionghoa di Bogor pada abad ke-18 dan ke-19. Kemiripan fonetik “Ji Sao/Gi Sao” dengan “Chi Sao” (黐手) dari Wing Chun—sebuah latihan ‘tangan lengket’ fundamental dalam gaya kung fu Tiongkok Selatan—sangat mencolok.
Pada periode yang sama, Guangdong, Tiongkok, memang menjadi pusat perkembangan Wing Chun, dan terjadi gelombang migrasi besar-besaran orang Tionghoa, termasuk suku Kanton, ke Hindia Belanda. Bogor, sebagai pusat perdagangan, menjadi salah satu destinasi utama, sehingga keberadaan praktisi bela diri Tionghoa di sana sangat mungkin membawa konsep “Chi Sao.”
Dengan demikian, Maenpo Cianjur kemungkinan besar merupakan hasil akulturasi dan adaptasi lokal dari prinsip “Ji Sao” yang dibawa oleh para imigran Tionghoa. Nama “Maenpo” itu sendiri mungkin berasal dari kata ‘maen’ (Sunda: bermain) dan ‘po’ (Kanton: pecah/menembus) mencerminkan esensi dari “Ji Sao,” terutama jika “Po” dikaitkan dengan karakter Tionghoa 破 (pò) yang berarti “pecah” atau “menembus,” selaras dengan tujuan Chi Sao untuk memecahkan pertahanan lawan. Ini menunjukkan bahwa seni bela diri dapat melintasi batas geografis dan budaya, berakar, serta berkembang menjadi bentuk seni yang unik di tempat baru, seperti Maenpo di Cianjur.
Hancaeun…
Cag.
Depok, 5 Juli 2025

Pemerhati sejarah dan budaya Cianjur, pembaca naskah Sunda kuno, pengulik musik tradisi. Pengguna setia Linux.










Total views : 44034
Who's Online : 2