
Saya tergugah untuk kembali meninjau narasi tentang istilah dan konteks “samida” yang tercantum dalam Prasasti Batutulis, sebab dalam beberapa waktu belakangan istilah “samida” telah menarik perhatian banyak pihak, mulai dari peneliti, pemerhati sejarah, aktivis budaya, hingga pemerintah daerah setempat.
Masing-masing pihak ini, tentu saja, memiliki narasi dan interpretasi sendiri yang didasarkan pada sumber-sumber yang mereka teliti atau ketahui. Berbagai penafsiran yang muncul belakangan ini di satu sisi berpotensi memperkaya khazanah pengetahuan dan narasi sejarah Sunda Kuna. Namun, di sisi lain banyaknya interpretasi yang dikemukakan itu tak jarang memicu kontroversi. Lantas, bagaimana sumber-sumber literatur Sunda dan Jawa Kuna merekam istilah “samida”? Yuk simak artikel ini.

Pemerhati sejarah dan budaya Cianjur, pembaca naskah Sunda kuno, pengulik musik tradisi. Pengguna setia Linux.









Total views : 44028
Who's Online : 0