Membongkar Tirani Tersembunyi: Jejak Kekuasaan Pemimpin Cianjur di Era Kolonial

Gevallen van knevelarij worden in onze bronnen niet dikwijls vermeld.

‘Catatan kelam tentang kasus kesewenang-wenangan jarang disebutkan dalam sumber-sumber yang kita miliki.’

Kalimat pembuka ini seolah membisikkan sebuah ironi, bahwa sejarah, layaknya panggung sandiwara, terkadang menyembunyikan lakon-lakon kelam di balik gemerlap kekuasaan. Tampaknya, Kabupaten Cianjur di bawah cengkeraman kolonialisme juga tak luput dari bayang-bayang tirani yang serupa.

F. De Haan, melalui penelusurannya yang cermat dalam Priangan Jilid 4 halaman 404, mengungkap sebuah skandal yang terjadi pada tahun 1731: seorang Kepala Cianjur diduga kuat melakukan pemerasan, memanfaatkan jabatannya untuk keuntungan pribadi. Tak berhenti di situ, jejak kesewenang-wenangan kembali terkuak pada tahun 1807. Seorang Regent Cianjur tercatat “membeli” kerbau dari rakyat dengan harga yang tak pantas disebut, sebuah praktik yang mengindikasikan adanya monopoli yang merugikan.

Kasus-kasus penindasan tidak sering disebutkan dalam sumber-sumber kita. Bandingkan laporan Bollmann (B. 29, 29) tentang pemerasan pada tahun 1731 oleh para Kepala Cianjur, “meninggalkan pada mereka {penduduk} tidak ada yang tersisa kecuali, bisa dikatakan, apa yang terlalu panas atau terlalu berat bagi mereka”, yaitu ketika mereka sesekali melihat bawahannya; dan jika penduduk melarikan diri, maka mereka menguasai para wanita dan anak-anak. Nic* Engelhard melarang R. 27 Nov. 1792 kepada para Kepala di Karawang pengambilan kerbau secara sewenang-wenang. Berdasarkan R. 25 Maret 1803 beberapa Kepala bawahan Bandung dihukum, yang menurut lampiran terbukti bersalah melakukan pembebasan dari kewajiban kerja paksa dengan imbalan uang, pengambilan kuda dan kerbau dsb., dan seorang Kepala Sumedang, yang telah memeras uang. Regent Cianjur pada tahun 1807 membeli kerbau dari penduduk dengan “harga yang tidak layak disebut” untuk “dengannya menjalankan semacam monopoli”, kata Komisi Thalman, dan juga, bahwa di wilayah Buitenzorg sawah-sawah penduduk dirampas untuk dijadikan kebun kopi.

Semakin kita menyelami lorong waktu Cianjur di masa lalu, semakin menarik pula intrik-intrik kekuasaan yang tersembunyi ini terkuak… Seolah ada kisah-kisah gelap yang sengaja tak banyak diceritakan, menunggu untuk dibongkar dan ditelisik lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *