Melacak Letak Cimapag dalam Sejarah Cianjur

Update: 31 Desember 2023

Untuk sebagian orang, Cimapag sebagai nama tempat yang disebut-sebut dalam sejarah Cianjur, mungkin tidak asing lagi. Namun demikian, di mana persisnya letak daerah yang bernama Cimapag dalam sejarah Cianjur itu masih banyak orang yang tidak tahu. Selain karena tidak mudah menemukan sumber rujukan yang dapat diandalkan, juga di dalam sumber yang tidak banyak itu pun tidak secara rinci disebutkan deskripsi atau keadaan wilayah Cimapag itu sendiri.

Tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel Kemunculan Awal Nama Cianjur dalam Laporan VOC, seri pembacaan ulang sumber-sumber awal tentang sejarah Cianjur. Setelah diketahui kapan nama Cianjur sebagai sebuah wilayah muncul dalam laporan itu bersama-sama dengan daerah Cimapag, lalu muncul pertanyaan lain. Di manakah lokasi Cimapag yang dimaksud?

Tentu saja, untuk memeriksa lokasi yang paling mendekati peristiwa dalam laporan itu perlu dilakukan pustaka dengan mengelaborasi sumber-sumber lain, seperti peta, berita, atau informasi lain yang dapat dirujuk. Tapi, sebelum kita menelisik data-data pendukung tentang topik ini, saya akan tawarkan beberapa pilihan lokasi yang saat ini bernama Cimapag. Mudah saja untuk mencarinya, buka Google Maps, dan ketik “Cimapag”, maka akan muncul beberapa pilihan.

Data dari Google Maps

Setidaknya, saya mendapatkan enam lokasi Cimapag yang saat ini masih dikenali. Jika dilihat dari data yang ada, tampaknya semuanya merupakan sebuah wilayah di bawah pemerintahan desa. Sehingga, bisa disebut juga sebagai “kampung”. Berikut ini keenam nama kampung Cimapag yang didapatkan dari Google Maps.

  1. Cimapag, Panggarangan, Kabupaten Lebak, Banten
  2. Cimapag, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat
  3. Cimapag, Bantar Agung, Jampang Tengah, Kab. Sukabumi
  4. Cimapag, Bangun Jaya, Cigudeg, Kab. Bogor
  5. Cimapag, Sirnasari, Tanjungsari, Kab. Bogor
  6. Cimapag, Gunung Sari, Kec. Sukanagara, Kab. Cianjur

Acuan dari Laporan VOC: D. 20 Januari 1678

Sebagai dasar untuk menentukan lokasi mana yang disebut dalam laporan VOC, baiknya kita baca kembali dagregister 20 Januari 1678 berikut:

20 d°. Heden comt de capiteyn, Fredericq Muller, by zij Edt met een afgesondene van pangeran Patty Samadangh, op gisteren te lande van daer weder aengecomen, overleverende twee briefjes van syn meester, d’eene op Javaens papier en d’andere op een lonthoir in de Javaense tale, beyden aan d’heer generael geschreven ende nae translatie beconden van volgenden inhout.

Dese brief comt van my, Pangerang Depatty Samadang, geschreven aen d’Ed” heer Gouverneur Generael op Batavia, wensche zyn Ed° een langh leven, gesontheyt, ryckdom, vrede en voorspoet in syn Ed’ regeringh (God) in de landen wil verleenen [sic], opdat icq als een soon onder syn vader mach
beschermt wesen.

Myn Ed’ heer Gouverneur Generaal, die van Seribon hebben almede in ’t geberchte Simapack en ’t Santoir beset, dat de coopluyden niet meer naer Batavia mogen gaen om te handelen; die met gewelt wil deur gaen, worden de goederen en coopmanschappen afgenomen, versoecke insgelyex woor te wesen om de voorsz. dorpen instant te brengen.

Terjemahan:

Tanggal 20. Hari ini, Kapten Fredericq Muller datang dengan kehormatannya, didampingi oleh seorang utusan dari Pangeran Patty Samadangh, yang tiba kembali kemarin dari tempat ia berangkat. 

Dia menyerahkan dua surat dari tuannya, satu berupa kertas Jawa dan yang lainnya berupa daun lontar dalam bahasa Jawa, keduanya ditulis untuk jenderal, dan setelah diterjemahkan, ternyata berisi konten berikut.

Surat ini datang dari saya, Pangerang Depatty Samadang, ditulis kepada Yang Terhormat Gubernur Jenderal di Batavia, saya berharap Yang Terhormat panjang umur, kesehatan, kekayaan, damai, dan kemakmuran dalam pemerintahannya yang Mulia, semoga Tuhan memberkati di tanah-tanah ini, agar saya dapat dilindungi seperti seorang anak di bawah ayahnya

Yang Terhormat Gubernur Jenderal saya, orang-orang dari Seribon juga telah menduduki pegunungan Simapack dan Santoir, sehingga para pedagang tidak lagi boleh pergi ke Batavia untuk berdagang; mereka yang ingin melalui dengan paksa, barang-barang dan dagangan mereka akan diambil, saya meminta juga untuk dibantu agar dapat memberikan perhatian segera pada desa-desa yang disebutkan tadi.

Keterangan lain didapatkan dari De Haan (1912) dalam buku Priangan jilid III. Catatan in juga merupakan tafsiran De Haan terhadap D. 20 Jan. 1678 tersebut di atas.

De eerste vermelding van Tjiandjoer is D. 20 Jan. 1678 in een brief van den Regent van Soemedang: „Die van Seribon hebben alsmede in ’t geberchte Simapack en ’t Santoir (lees: Tsiantior) beset, dat de coopluijden niet meer naer Batavia mogen gaen”. Cheribon lei dus in de troebelen de hand op den belangrijksten verkeerweg van Batavia met de Preanger (zie § 2268). Aangezien nu Tjimapag nog veel later onder Tjikalong bchoorde (§ 227), is het niet onwaarschijnlijk dat hier de stichtíng van Tjiandjoer wordt bedoeld, waarbij niet aan koloniseering van uit de hoofdstad Cheribon bchoeft te worden gedacht.

Terjemahan:

Catatan pertama mengenai Tjiandjoer tercatat pada D. 20 Januari 1678 dalam sebuah surat dari Regent Soemedang: “Orang-orang dari Seribon juga telah menduduki pegunungan Simapack dan Santoir (atau Tsiantior), sehingga para pedagang tidak lagi boleh pergi ke Batavia.” Cheribon dengan demikian pada masa-masa sulit telah menguasai rute perdagangan paling penting dari Batavia menuju Preanger (lihat § 2268). Mengingat bahwa Tjimapag masih jauh kemudian menjadi bagian dari Tjikalong (§ 227), tidaklah tidak mungkin bahwa di sini yang dimaksud adalah pendirian Tjiandjoer, di mana tidak perlu dipikirkan tentang kolonisasi dari ibu kota Cheribon.

Dari kedua keterangan tersebut kita bisa ambil beberapa poin penting berikut ini:

  1. Daagregister itu berisi terjemahan dua surat yang dikirim oleh Adipati Sumedang (Depatty Samadang) yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal di Batavia.
  2. Adipati Sumedang meminta perlindungan dan bantuan kepada Gubernur Jenderal atas beberapa kejadian yang merugikan pihak Sumedang, salah satunya yaitu sabotase terhadap pengiriman komoditas dagang dari Sumedang ke Batavia di pegunungan Cimapag dan Cianjur.
  3. Jalur pengiriman pengiriman barang dagangan dari Sumedang ke Batavia atau sebaliknya melalui daerah pegunungan Cimapag (Simapack) dan Cianjur (Santoir).
  4. Cimapag menjadi bagian dari wilayah Cirebon
  5. Cimapag dan Cianjur disebut desa (Bld: dorpen). Artinya secara luas wilayah masih dianggap kecil.
  6. Cimapag belakangan menjadi bagian dari wilayah Cikalong

Dengan mempertimbangkan keterangan tersebut, kita dapat mengeliminasi beberapa kandidat lokasi “Cimapag” yang kita sajikan di awal berdasarkan rute Sumedang-Batavia melalui Cianjur – Cimapag ini. Eliminasi ini dilakukan dengan menghitung radius tempat yang terlalu jauh dari rute Sumedang-Batavia. Kalaupun harus ditempuh, maka sangat tidak efisien baik dari segi waktu maupun persediaan logistik, karena terlalu jauh memutar.

Dengan demikian, kampung Cimapag pada nomor 1 (Lebak, Banten), 2 (Cisolok, Sukabumi), 3 (Jampang Tengah, Sukabumi), 4 (Cigudeg, Kab. Bogor) dapat dikesampingkan.

Ada dua kandidat lagi yang tersisa, yaitu nomor 5: kampung Cimapag di desa Sirnasari, kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor, dan nomor 6: kampung Cimapag, Desa Gunung Sari, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur. Keduanya merupakan wilayah perbukitan dan dekat atau berada di Cianjur. Bisa jadi salah satu di antaranya, bukan? Apakah anda setuju?

Namun, lagi-lagi kita harus mempertimbangkan jarak, waktu tempuh, tenaga, serta logistik ketika melakukan perjalanan. Jika membandingkan kedua lokasi Cimapag itu, maka daerah kecamatan Sukanagara yang berada jauh di wilayah selatan Cianjur cenderung tidak memungkinkan untuk ditempuh. Cukup logis untuk tidak melakukan perjalanan dari Sumedang (via Bandung), ke Cianjur, Cimapag (Sukanagara), lalu ke Batavia. Jika itu dilakukan, maka akan terlalu memakan waktu dan logistik.

Setelah mempertimbangkan lebih dalam, maka tinggal satu kandidat yang paling mungkin atau mendekati lokasi yang disebut-sebut dalam catatan Belanda maupun sumber lainnya, yaitu wilayah kampung Cimapag di Desa Sirnasari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Wilayah ini termasuk dalam kawasan jalur alternatif Jonggol. Daerah Cimapag ini dilalui oleh sungai besar Cibeet yang bermuara di sungai Citarum. Untuk menuju ke daerah Cimapag saat ini bisa ditempuh dari jalur Jonggol melalui wilayah kecamatan Cikalong Kulon, Cianjur.

Posisi relatif Cimapag dengan Cikalong (sumber: Google Maps)
Letak Cimapag berbanding dengan luas wilayah Kec. Cikalong Kulon (sumber: Google Maps)

Peta modern menunjukkan bahwa luas wilayah kecamatan Cikalong Kulon, Cianjur saat ini berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Bogor di sisi utara. Wilayah Cikalong (Kulon) sempat mengalami beberapa perubahan komposisi wilayah. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, wilayah Cikalong pada masa Hindia-Belanda memiliki rentang yang lebih luas ke utara dan selatan.

Fakta geografis ini juga relevan dengan keterangan De Haan (1912) dalam buku Priangan jilid III yang menyebutkan bahwa wilayah Cimapag kemudian menjadi bagian dari wilayah Cikalong. Artinya, kedua wilayah ini memiliki jarak yang cukup dekat.

Peta Hindia-Belanda 1855

Sebuah peta pulau Jawa bagian barat yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1855 karya F. Junghuhn menunjukkan sebuah tempat bernama “Tjimapak” (dengan simbol persegi diagonal) yang terletak di perbatasan Priangan sebelah utara dengan Buitenzorg tenggara. Di dalam legenda peta itu dijelaskan mengenai simbol persegi diagonal yang disebut Gewone Dorpen yang berarti “desa biasa”.

Tjimapak (Cimapag) di perbatasan Buitenzorg dan Preanger (sumber: peta Junghuhn 1855)

Lokasi Tjimapak yang berada di sebelah barat daya dari Tjikalong (Cikalong) menjadi petunjuk lain. Hal ini memberikan penguatan bahwa Tjimapak yang dimaksud dalam peta itu adalah Cimapag yang kita bahas di sini.

Letak relatif Tjimapak (Cimapag) dengan Tjikalong (Cikalong) (sumber: peta Junghuhn 1855)

Rute Transportasi & Logistik

Dengan meninjau kembali keterangan dalam kedua sumber Belanda tadi, serta dielaborasi dengan menggunakan peta moderen, setidaknya saya bisa mengira-ngira seperti apa rute “kuno” perjalanan pengiriman komoditas atau jalur transportasi dari Sumedang ke Batavia (atau sebaliknya) yang melalui wilayah Cikalong saat itu. Tentu, pada masa ini belum ada rute Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang dibuat pada era pemerintahan Gubernur Jenderal Dandels (1815-1818) dan jauh sebelum ada Waduk Cirata (1983-1986).

Perkiraan rute pengiriman barang dan transportasi Batavia-Sumedang. Daerah Cimapag yang disebut dalam Sejarah Cianjur dalam lingkaran merah.

Walaupun ini sekadar hipotesis saja, untuk sementara, saya beranggapan bahwa ini adalah rute yang paling memungkinkan, dengan beberapa dukungan peninggalan rumah-rumah atau bangunan kuno dan struktur dari masa Belanda lainnya. Berikut ini penelusuran rute yang saya tawarkan:

  1. Sumedang – Wanayasa (via Jalan Cagak)
  2. Wanayasa – Cikalong Kulon (via pegunungan Maniis)
  3. Cikalong Kulon – Cileungsi (via Cimapag – Jonggol)
  4. Cileungsi – Batavia

Dengan rute seperti demikian, maka konteks lokasi dan peristiwa yang terjadi di Cimapag dan sekitarnya kurang lebih sesuai dengan narasi dalam catatan-catatan Belanda. Setidaknya, bagi saya. Nah, jika anda memiliki pendapat lain, silakan tulis komentar ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *