“Puasa Facebook”, Sejenak Meninggalkan Hiruk-pikuk Media Sosial

Dalam beberapa minggu belakangan ini sepertinya kepala terlalu penuh dengan pikiran akibat terlalu sering membaca dan menyimak informasi di media sosial, terutama dari Facebook. Notifikasinya terlalu membuat kecanduan. Waktu melihat tanda merah notifikasi, tangan dan mata seolah seperti terhipnotis untuk membukanya. Padahal notifikasinya paling juga hanya satu atau dua saja yang muncul di layar ponsel.

Ketergantungan terhadap Facebook ini sepertinya mulai mengganggu beberapa aktifitas dasar sehari-hari. Ritme pekerjaan juga terpengaruh. Makanya, sejak kemarin saya berazam untuk “puasa Facebook”. Maksudnya adalah logout dari Facebook dalam waktu satu minggu. Tentu tidak akan melihat notifikasi, tidak akan merespon, dan tidak akan memberikan update status. Tujuannya yaitu untuk menata kembali ritme harian dan pekerjaan.

Logut dari Facebook

Langkah ini belum pernah saya coba sejak saya membuat akun Facebook. Belum tahu juga seperti apa efeknya terhadap diri pribadi. Harapannya sih akan memberikan ketenangan yang lebih dan konsentrasi terhadap hal-hal sederhana sehari-hari.

Walaupun ponsel sudah saya silent, tetapi notifikasinya tetap muncul. Sebenarnya ada cara untuk tidak memunculkan notifikasinya, tetapi waktu itu ada kekhawatiran di benak saya bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk jika tidak terhubung dengan Facebok satu hari saja. Itu mungkin kedengaran konyol, namun itulah yang saya rasakan.

Teman di Facebook saya ada sekitar tiga ribuan. Banyak yang saya kenal secara personal. Artinya pernah bertemu dan berinteraksi secara langsung di dunia nyata. Sebagian besarnya, justru belum pernah bertemu. Belum lagi ada sekitar 600 daftar tunggu pertemanan yang tidak saya terima. Ini mungkin suatu bentuk kejenuhan dalam ber-media sosial. Ada fitur “follow” atau ‘ikuti’ yang bisa digunakan memang, alih-alih permintaan pertemanan. Tetapi saya agak malas menguliknya dan belum bisa merasionalkan manfaatnya untuk saat ini.

Sayang saya perlukan saat ini adalah ketenangan dalam berfikir dan berinteraksi dengan orang-orang terdekat. Tidak teralihkan oleh notifikasi dan dorongan untuk scrolling layar wall Facebook. Ini baru satu media sosial saja yang saya coba. Twitter dan instagram masih login di ponsel saya. Memang kedua platform itu tidak seaktif Facebook, jadi tidak mengganggu untuk saat ini. Bisa jadi, jika sudah mengganggu, saya akan logout juga untuk beberapa saat.

Di hari yang pertama ini rasa khawatir tentang “apa yang sedang terjadi di wall Facebook” masih muncul di kepala, tetapi saya sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan membuka Facebook pribadi selama seminggu. Saya pegang akun Facebook pekerjaan, karena memang berhubungan dengan public campaign yang sarana utamanya adalah media sosial dan akses internet. Tetapi, cukup dalam melaksanakan pekerjaan saja. Bukan yang lain-lain. Jadi role-nya adalah sebagai admin saja, bukan sebagai netizen yang aktif berinteraksi.

Kegiatan mencari informasi melalui internet tetap saya lakukan seperti biasa. Memeriksa email, menulis blog dan berbalas pesan di Whatsapp juga masih dilakukan. Mungkin kita akan coba juga puasa-puasa media sosial yang lain. Sepertinya akan menarik untuk dilihat pengaruhnya, minimal untuk diri saya.

Tentang puasa Facebook ini, kita akan lihat efeknya dalam satu minggu ke depan. Saya akan bagikan kembali pengalaman setelah selama seminggu nanti. Jadi, tetapi ikuti blog ini ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.